Jangan mencibir jikalau saya bilang, saya belum pernah pergi lebih jauh dari Bandung, selama 37 tahun ini. Ya yaa, kind of katrok banget ya.
Dulu jaman saya SD kelas 4 atau 5, sekeluarga liburan ke Bali, dan mampir ke Jogja, jalan darat. Daaan, hanya saya yang tidak ikutan, karena nggak pengen.Weird? Mungkin. Tapi saya inget bener, teguh kukuh berlapis baja – niat saya untuk gak ikut liburan itu, dan tetap tinggal di rumah bersama bibik dan nenek. Weww..
Dan ketika Farah punya libur sebelum perhelatan SeaGames 2011 ini, kamipun memutuskan untuk menikmati kota Jogjakarta, bertiga.
Hari pertama, tiba di Bandara Adi Sucipto udah jam 12 siang, dan memilih seorang bapak yang menawarkan taxi nya untuk mengantar ke hotel Whiz di jalan Dagen, Malioboro. Nantinya, si bapak yang bernama bpk Resmi ini akan menjadi teman perjalanan selama 3 hari.
Setelah checkin, kami langsung jalan lagi menyusuri Malioboro, dan Farah dengan bahagia menemukan kenyataan that moda angkutan yg paling sering akan digunakan adalah : Andong. Jadilah kami naik andong ke pasar Beringharjo, melongok sekilas ke buaaanyak batik, dan kembali ke hotel naik andong lagi.
Malemnya bersama Pak Resmi, kami mencoba makan di lesehan Bu Budi, gudeg tentunya. Cuaca hujan rintik, dingin. Dan gudeg pertama yg kami cicip adalah gudeg jenis basah (ternyata ada gudeg basah dan kering. Satu diguyur kuah, satunya nggak) dan manis banget. Farah memutuskan ternyata gudeg not suitable buat dia, haaa..
Setelah diajak muter di alun-alun, dan karena hujan masih menyambangi Jogja, kamipun pulang ke hotel.
Hari ke-2, planning ke Borobudur deh. Semangat banget Farah masuk ke area candi, walau begitu membuka pintu mobil kami dikerubungi para pedagang
Sudahlah membeli topi besar buat Farah, topi buat papa, masih juga para penjual menjajakan dagangannya sambil sedikit mendesak, terkesan memaksa. Saya gerah.
Masuk setelah membeli tiket, pengunjung diharuskan mengenakan kain batik yg dililitkan ke pinggang. Jujur saya belum tau philosopinya, tapi jadilah kami ber3 saling bantu melilitkan kain batik tadi. Hahaha.

Naik ke puncak Borobudur, panas dan lelah dooong. Farah mulai bete, dan takut saat menapaki tangga batu. Tapi papanya exited, karena objek foto banyak.
Dulu ada mitos, kalo kita memasukkan tangan ke dalam lubang stupa candi Borobudur, dan tangan kita sampai di bantu (atau entah apa) di dalam stupa itu, maka keinginan kita nanti akan terkabul.
Sayapun ingin mencoba memasukkan tangan di stupa Borobudur, sumpahh cuma karena ingin tau ada apa di dalamnya, that’s it. Bukan karena mitosnya. Namun sodara sodaraaaa, baru mengulurkan tangan, petugas penjaga candi menghardik saya dan melarang saya! Wheww, tengsin yak. Mbok ya dikasih tau dari awal, gak boleh ini gak boleh itu, biar gak malu, ahahaha..

Setelah turun dari candi, kami bertemu rombongan Bhiksu dan Bhiksuni yang sedang merapal doa di hadapan candi. Jumlahnya hampir 20 orang, dengan satu orang yang duduk di kursi roda dan terlihat senior diantara mereka. Setelah selesai, banyak yang mengajak mereka berfoto. Pun papanya Farah
Berfotolah kami bertiga dengan 2 diantara mereka. Setelahnya, saat bersalaman, salah satunya bilang ke papa Farah,” Kamu berkah lho” heee? Entah berkah karena apa, yang jelas fotonya jadi menarik karena colorfull

Hari ke-3, lebih banyak planning dibuat. Paginya kami menuju Prambanan Temple, yang relatif lebih dekat jaraknya dibanding Borobudur kemaren. Di Candi peninggalan agama Hindu ini, nggak terlalu banyak effort tersita karena no more tangga dan no more tanjakan menuju pusat candi. Prambanan lebih kecil dari Borobudur, namun nggak kalah cantik dan memesona.

Keluar dari area Prambanan, Pak Resmi membawa kami mengunjungi Keraton Jogja. Setelah membeli tiket masuk, kami dihampiri oleh seorang bapak yang (rupanya) adalah guide di area Keraton. Jadilah kami menggunakan jasa si bapak, yang ternyata banyak berguna untuk menjelaskan berbagai tempat dan momen bersejarah di Keraton, yang tidak didapat jika kita hanya masuk dan berjalan sendiri di sana, IMHO.
Perjalanan menyusuri Keraton hanya sanggup kami jalani sampai museum kereta di sebelah keraton, karena jika ingin mengitari seluruh area Keraton, yang ada malah gempor deh, karena luasnya sekian gitu
Di museum kereta, Farah sempet ketakutan dan mengajak cepat pulang saat si bapak menjelaskan tentang kereta yang selalu dimandikan saat peringatan 1 Suro, padahal di museum tersebut terdapat 23 kereta kuda yang indah-indah dan antik. (Plus kudanya yang berkandang di sisi kiri gedung museum).

Hari ke 4, lagi-lagi naik andong, kami penasaran ingin melihat Tamansari, tempat pemandian para putri kerjaan Jogja yang juga tersohor itu. Kembali kami menggunakan jasa mas mas guide area Tamansari, dan itu worth it lho.
Si mas menjelaskan dengan detail, sisi kanan kolam yang diperuntukkan bagi anak-anak sultan, dan sisi kiri diperuntukkan bagi para selir. Di mana kolam pemandian sultan sendiri berbeda letaknya di dalam ruang berikutnya. Kebayang ribetnya kalo mandipun penuh tata cara ya, namun itulah istimewanya para putri raja (ihhikkk..)
Penjelajalan terus ke belakang tamansari, menuju ruang makan kesultanan, pawon atau dapur kesultanan, sampai ruang istirahat siang bagi sultan dan permaisuri. Semua masih ada dan cukup terawat, untuk ukuran 300 tahunan ya..
Juga melewati kampung Cyber, dimana masyarakatnya semua melek internet (waw..), masjid di bawah tanah, dan berakhir di benteng Kenanga, tempat pengintaian dan tempat Sultan dan keluarga beristirahat saat malam. What a nice story..
Perjalanan hari ke-4 ini diakhiri malam hari saat kembali kami menikmati lesehan di Malioboro, dan sempat menyaksikan Malioboro Funky yang sedang beraksi. Keren sekali !


Then di hari terakhir, sebelum menuju bandara, teteuppp belanja Gudeg dan Bakpia buat oleh-olehnya. Gudeg Yu Djum yang tersohor dan termasuk gudeg kering, juga bakpia 25 dengan berbagai rasa, melengkapi perjalanan kami ke Jogja kali ini. Alhamdulillah..