Story about my “Kroseiii” :o

Adalah si teteh yang harus disalahkan akan hobby baru saya sekarang ini : Merajut. Kakak saya satu-satunya yang sudah menekuni kegiatan chrochet (merajut dengan satu jarum . Hakken) sejak 3 tahun yang lalu, baru awal bulan Januari ini berhasil meracuni saya merajut.

Satu hari belajar memegang hakken yg benar, posisi benang di jari, dan mulai mengenal istilah ‘chain’ , ‘double chrochet’ , dan lainnya. Dua tiga hari berjalan, koq ya merasa asyik..
Jadilah saya mulai mencari berbagai warna benang, berbagai pola dan browsing hasil rajutan para rajuters yang ada.

Akhirnya, melalui media bbm, ada teman yang menawarkan untuk ikut kelas merajut (yg ternyata ini adalah kelas perdananya mengajar, trims ce Tata). Pelajaran pertama, saya diajarkan membaca pola. Ternyata, setelah mengerti simbol pada pola rajutan, semua pola berasa mudah lhooo (beneran, bukan lebay).

Saya langsung pasang target mau bikin selimut buat Farah (ihik, boleh dong targetnya tinggiiiiii). Satu square rajutan sekitar 12cm. So, kalau saya punya niat bikin selimut ukuran 1,7m x 1,2 m maka saya harus bisa membuat.. 142 square !!
Sementara saya baru menyelesaikan 15 square saja sodara sodara.. Hehehe..
Its okee koq, saya tetap semangat :)

Eniwei, Senin kemaren teman saya berulangtahun. Dan saya menjadikan kado buatnya sebagai project saya, ha ha ha (ketawa jumawa)..
Taraaaaa… :

Disusul dengan membuat taplak sederhana :

dan taplak mini yg dibuat hanya dalam satu malam :

Masih jauh dari sempurna, tapi senang sekali belajar untuk bisa!  ;-)

Posted in Umum | Leave a comment

Ou(ch..)ting (a.k.a Outbond)

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, team Syariah di kantor mengadakan outbond terpisah dari team lain, dikarenakan saat team konven beroutbond, team kami sedang mempersiapkan kedatangan audit nan menakutkan.

Well, karena team Syariah sendiri hanya berisi 6 orang, 2 diantaranya berhalangan ikut karena ada ujian seertifikasi, maka jadilah 4 anggota team ‘liburan mendadak’ bersama keluarga. Kebetulan lagi, 3 diantaranya merupakan pasangan pengantin baru, hanya 1 yang sudah membawa serta seorang anak, iya, sayahhh… :lol:

Berikut cerita dalam gambar…

Sumringah menanti keberangkatan

Lunch di Resto Biru Laut, Pasir padi..Lunch di Resto Biru Laut, Pasir Padi

Empat pasangan. Fa mana yaaa..  ;-)

Masih senyum..

Pucatttt…

Dinner di The Rock Island

Lunch penutup di Palembang, dengan satu personel tambahan sehabis ujian sertifikasi

Demikianlah… 

Dan mereka hidup bahagia selamanya.. (dongeng kaliii)

Posted in Umum | 1 Comment

Lunar Eclipse

Posted in Umum | Leave a comment

Poligambreng :)

Jujur saya tertarik mengambil buku ini dari rak di toko buku dikarenakan judulnya yang bikin nyengir. Disertai kutipan pada sampul bukunya “ Sebuah Ketoprak Rumah Tangga”, buku ini sukses ikut dalam kantong belanjaan saya. 

Adalah Katarno, lelaki asal Desa Gemahripah Kecamatan Lohjinawi J yang mengais rejeki di ibukota sebagai pedagang ketoprak keliling, untuk menghidupi satu istri dan 4 anaknya (anak terakhir lelaki, sesuai harapannya yang telah memiliki 3 putri sebelumnya). Tak ada yang salah dalam kehidupan rumah tangga Katarno, selain karena ia seorang yang ‘jalan lurus nggak niat macem-macem’, anak dan istrinya di desa pun bukan termasuk pembuat onar atau tukang ghibah. Selebihnya, masalah utama penghidupan rakyat kecil, kurangnya materi-banyaknya hutang-tunggakan di setiap cicilan-menjadi inti dari semua masalah keluarga Katarno. Walau Lininda, anak pertama Katarno ikut membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota, masalah ekonomi belum menemukan jalan keluarnya.

Di kota, gerobak ketoprak Katarno banyak dinanti para langganan, termasuk Santi – janda muda yang dicerai suaminya karena tidak mampu memberikan keturunan. Santi pengusaha batik yang cukup sukses, pelanggan setia ketoprak Katarno plus Mas penjualnya.

Memang too good to be true, seorang Santi yang kaya, baik, jatuh hati pada abang ketoprak yang sudah beranak istri, dan malah bersedia dijadikan istri ke dua untuk membantu keluarga Katarno. Tapi di sini penulis memang ingin mengedepankan masalah perpoligamian, tidak jadi soal jika ceritanya seperti sinetron kejar tayang, hehe..

Singkatnya, walau melalui pertikaian sengit dengan istri pertamanya, jadilah Katarno dan Santi menikah. Setelah melalui pemikiran yang panjang, bertanya ke sana ke mari soal poligami, keluarga Katarno  bisa hidup rukun dengan 2 induk di rumahnya. Perekonomian mereka membaik, semua hutang terlunasi, berkat adanya poligami tadi. (Yes, ini sisi positif poligami. And No, saya tidak berminat dipoligami).

Sampai akhirnya, Lininda anak pertama mereka memberi kejutan. Kejutan yang membuat Sasmi, istri pertama Katarno tak lagi mampu menerima kenyataan hidupnya.

Novel ini saya selesaikan dalam 2 hari, selain karena ceritanya ringan dan kocak, penulis mampu mengedepankan alasan penentangan poligami sekaligus penerimaan poligami, dengan cara yang santai tapi mengena. Baca deh..  ;-)

Posted in Umum | 7 Comments

Djogja – Antara Gudeg dan Andong

Jangan mencibir jikalau saya bilang, saya belum pernah pergi lebih jauh dari Bandung, selama 37 tahun ini. Ya yaa, kind of katrok banget ya. :-D

Dulu jaman saya SD kelas 4 atau 5, sekeluarga liburan ke Bali, dan mampir ke Jogja, jalan darat. Daaan, hanya saya yang tidak ikutan, karena nggak pengen.Weird? Mungkin. Tapi saya inget bener, teguh kukuh berlapis baja – niat saya untuk gak ikut liburan itu, dan tetap tinggal di rumah bersama bibik dan nenek. Weww..

Dan ketika Farah punya libur sebelum perhelatan SeaGames 2011 ini, kamipun memutuskan untuk menikmati kota Jogjakarta, bertiga.

Hari pertama, tiba di Bandara Adi Sucipto udah jam 12 siang, dan memilih seorang bapak yang menawarkan taxi nya untuk mengantar ke hotel Whiz di jalan Dagen, Malioboro. Nantinya, si bapak yang bernama bpk Resmi ini akan menjadi teman perjalanan selama 3 hari.

Setelah checkin, kami langsung jalan lagi menyusuri Malioboro, dan Farah dengan bahagia menemukan kenyataan that moda angkutan yg paling sering akan digunakan adalah : Andong. Jadilah kami naik andong ke pasar Beringharjo, melongok sekilas ke buaaanyak batik, dan kembali ke hotel naik andong lagi.
Malemnya bersama Pak Resmi, kami mencoba makan di lesehan Bu Budi, gudeg tentunya. Cuaca hujan rintik, dingin. Dan gudeg pertama yg kami cicip adalah gudeg jenis basah (ternyata ada gudeg basah dan kering. Satu diguyur kuah, satunya nggak) dan manis banget. Farah memutuskan ternyata gudeg not suitable buat dia, haaa.. :)
Setelah diajak muter di alun-alun, dan karena hujan masih menyambangi Jogja, kamipun pulang ke hotel.

Hari ke-2, planning ke Borobudur deh. Semangat banget Farah masuk ke area candi, walau begitu membuka pintu mobil kami dikerubungi para pedagang :)
Sudahlah membeli topi besar buat Farah, topi buat papa, masih juga para penjual menjajakan dagangannya sambil sedikit mendesak, terkesan memaksa. Saya gerah.

Masuk setelah membeli tiket, pengunjung diharuskan mengenakan kain batik yg dililitkan ke pinggang. Jujur saya belum tau philosopinya, tapi jadilah kami ber3 saling bantu melilitkan kain batik tadi. Hahaha.


Naik ke puncak Borobudur, panas dan lelah dooong. Farah mulai bete, dan takut saat menapaki tangga batu. Tapi papanya exited, karena objek foto banyak.
Dulu ada mitos, kalo kita memasukkan tangan ke dalam lubang stupa candi Borobudur, dan tangan kita sampai di bantu (atau entah apa) di dalam stupa itu, maka keinginan kita nanti akan terkabul.
Sayapun ingin mencoba memasukkan tangan di stupa Borobudur, sumpahh cuma karena ingin tau ada apa di dalamnya, that’s it. Bukan karena mitosnya. Namun sodara sodaraaaa, baru mengulurkan tangan, petugas penjaga candi menghardik saya dan melarang saya! Wheww, tengsin yak. Mbok ya dikasih tau dari awal, gak boleh ini gak boleh itu, biar gak malu, ahahaha..

                                    

Setelah turun dari candi, kami bertemu rombongan Bhiksu dan Bhiksuni yang sedang merapal doa di hadapan candi. Jumlahnya hampir 20 orang, dengan satu orang yang duduk di kursi roda dan terlihat senior diantara mereka. Setelah selesai, banyak yang mengajak mereka berfoto. Pun papanya Farah :)
Berfotolah kami bertiga dengan 2 diantara mereka. Setelahnya, saat bersalaman, salah satunya bilang ke papa Farah,” Kamu berkah lho” heee? Entah berkah karena apa, yang jelas fotonya jadi menarik karena colorfull :)

Hari ke-3, lebih banyak planning dibuat. Paginya kami menuju Prambanan Temple, yang relatif lebih dekat jaraknya dibanding Borobudur kemaren. Di Candi peninggalan agama Hindu ini, nggak terlalu banyak effort tersita karena no more tangga dan no more tanjakan menuju pusat candi. Prambanan lebih kecil dari Borobudur, namun nggak kalah cantik dan memesona.

Keluar dari area Prambanan, Pak Resmi membawa kami mengunjungi Keraton Jogja. Setelah membeli tiket masuk, kami dihampiri oleh seorang bapak yang (rupanya) adalah guide di area Keraton. Jadilah kami menggunakan jasa si bapak, yang ternyata banyak berguna untuk menjelaskan berbagai tempat dan momen bersejarah di Keraton, yang tidak didapat jika kita hanya masuk dan berjalan sendiri di sana, IMHO.

Perjalanan menyusuri Keraton hanya sanggup kami jalani sampai museum kereta di sebelah keraton, karena jika ingin mengitari seluruh area Keraton, yang ada malah gempor deh, karena luasnya sekian gitu :lol:

Di museum kereta, Farah sempet ketakutan dan mengajak cepat pulang saat si bapak menjelaskan tentang kereta yang selalu dimandikan saat peringatan 1 Suro, padahal di museum tersebut terdapat 23 kereta kuda yang indah-indah dan antik. (Plus kudanya yang berkandang di sisi kiri gedung museum).

                  

Hari ke 4, lagi-lagi naik andong, kami penasaran ingin melihat Tamansari, tempat pemandian para putri kerjaan Jogja yang juga tersohor itu. Kembali kami menggunakan jasa mas mas guide area Tamansari, dan itu worth it lho.

Si mas menjelaskan dengan detail, sisi kanan kolam yang diperuntukkan bagi anak-anak sultan, dan sisi kiri diperuntukkan bagi para selir. Di mana kolam pemandian sultan sendiri berbeda letaknya di dalam ruang berikutnya. Kebayang ribetnya kalo mandipun penuh tata cara ya, namun itulah istimewanya para putri raja (ihhikkk..)

Penjelajalan terus ke belakang tamansari, menuju ruang makan kesultanan, pawon atau dapur kesultanan, sampai ruang istirahat siang bagi sultan dan permaisuri. Semua masih ada dan cukup terawat, untuk ukuran 300 tahunan ya..

Juga melewati kampung Cyber, dimana masyarakatnya semua melek internet (waw..), masjid di bawah tanah, dan berakhir di benteng Kenanga, tempat pengintaian dan tempat Sultan dan keluarga beristirahat saat malam. What a nice story..
Perjalanan hari ke-4 ini diakhiri malam hari saat kembali kami menikmati lesehan di Malioboro, dan sempat menyaksikan Malioboro Funky yang sedang beraksi. Keren sekali !

  

Then di hari terakhir, sebelum menuju bandara, teteuppp belanja Gudeg dan Bakpia buat oleh-olehnya. Gudeg Yu Djum yang tersohor dan termasuk gudeg kering, juga bakpia 25 dengan berbagai rasa, melengkapi perjalanan kami ke Jogja kali ini. Alhamdulillah.. ;-)

Posted in Umum | 4 Comments