Cooking Time – NASTAR !!

Adalah biasa kalau seorang emak-emak suka memasak atau membuat kue sebagai hobby (sama biasanya kalau si emak-emak TIDAK suka memasak pun membuat kue). Begitupun aku, yang baru dalam taraf SUKA mencoba masakan atau kue yang menurutku menarik.

Setelah mencoba berkreasi dengan Cupcake dan fondant nya (yang mungkin sekarang mulai bosen :roll: ) kali ini aku tertarik mencoba membuat kue Nastar yang mungil nan menawan itu. Selain papa Farah paling doyan akan kue satu ini (ehmm.. sambil menyelam minum sirop), aku pun menemukan cara mudah dan praktis membuat Nastar, dengan tepung Pondan (instant !) – tidak dibayar untuk beriklan-red.

Caranya gampang :

1. Campurkan 2 kuning telur dengan 250gr mentega, kocok pelan dengan mixer selama 3 menit (sebentaaarrrr aja)

2. Masukkan 1 bungkus tepung PONDAN NASTAR (murah koq, percayalaaahhh) pada campuran mentega dan telur tadi, aduk rata perlahan.

3. Bentuk bulatan kecil sesuai selera, isi dengan selai nenas (yang juga banyak tersedia di pasaran, beli jadi aja, simple !)

4. Panggang hingga setengah matang, keluarkan, oles permukaan kue dengan kuning telur, masukkan kembali ke oven hingga kue masak dan berwarna kekuningan.

5. Enjoy it !!


Time to Read.

Udah lama nggak bikin update buku yang (baru) kelar dibaca, karena emang nyadar, reading speednya lagi jauh menurun akhir akhir ini. Tapi teteuupp, ada waktunya kita ‘bangkit’ dari semua kemalasan yang melanda.

Dua buku yang berhasil dikhatamkan are :

1. Bumi Cinta – Kang Abik

Seperti karya-karya Kang Abik lainnya, Bumi Cinta tetap berhasil menggugah hasrat memperbaiki diri dalam keimanan, keinginan belajar agama lebih jauh, yang mana keinginan itu mungkin telah tergerus waktu dan kealpaan diri.

(Sekali lagi, review buku di Mimott.com adalah murni pandanganku, rasaku, Asaku, dan niatku untuk berbagi, so bagi yang kurang setuju atau malah mencibir, jauh jauuuhh deeehhh yaaaa )

Adalah Muhammad Ayyas (keren euy namanya), tokoh utama dalam Bumi Cinta, memerlukan untuk tinggal di negeri Rusia yang katanya paling menjunjung tinggi pornografi, untuk menyelesaikan penelitiannya tentang Sejarah Islam di Rusia. Dengan nonik nonik muda Moskwa yang molek menawan, dengan banyaknya mafia dan kejahatan di bumi Rusia, Ayyas harus menyelesaikan tujuan studi tersebut dengan baik.

Intrik-intrik dalam Bumi Cinta enggan aku ceritakan di sini, karena akan lebih mengena bila dibaca langsung secara keseluruhan. Namun yang pasti, scene terbaik adalah saat kang Abik mengingatkan kembali bahwa “Bahkan dalam Alquran pun Allah, SWT menyebutkan kata “SABAR” lebih dari 70 kali”.. Subhanallah..

Kepiawaian seorang Habiburrahman pun tidak ingin aku perdebatkan, apakah Kang Abik selalu menciptakan perfect person untuk jadi tokoh utamanya (hak dia koq, sah ajaaaa), atau apakah Kang Abik telah mampu membangun gambaran negeri Rusia dengan detail, Bumi Cinta tetap layak untuk dinikmati.

Blue Mosque – Salah satu Mesjid di Moscow

2. Negeri 5 Menara – Fuadi

Novel satu ini sudah cukup lama mengganggu keinginanku untuk menjamahnya.  Dengan mantera “Man Jadda Wajada – Siapa yang bersungguh sungguh akan Berhasil” berhasil kudapatkan novel ini sore hari (titip pula, dengan OB di kantor, haha)

Kisah persahabatan beberapa anak di pondok Madani (Pondok Pesantren Gontor-Jawa timur) yang banyak menemui kesulitan pun kebahagiaan saat menuntut ilmu dunia dan akhirat, diceritakan dengan asyik dan membanggakan.

Negeri 5 Menara meninggalkan perasaan haru dan membuat kebahagiaan di dada, saat mengetahui bahwa hasil dari pendidikan di pesantren tidak kalah hebatnya (malah lebih awesome) dibanding pendidikan formal di dalam maupun luar negeri.

Jangan Lengah..

Phewww… :lol:

Banyak waktuku telah terlewati, tanpa ada hal terbaik yang aku lakukan.

Alhamdulillah, punya seorang sahabat yang (selalu) bersemangat dalam kebaikan dan pengembangan ilmu, yang membuat aku kini ‘terjaga’ dari lengahku yang panjang.

Tidak ada kata terlambat, mari berkarya !

Aku.

Bukan sajaknya Chairil Anwar.
Cuma ingin beritau kamu semua,
Ini aku!

(Blogging via , di tempat yg tidak semestinya :P )

Quote, for now.

“Jika anda tersesat

cepatlah kembali

saat anda masih bisa

menemukan jalan kembali.”