Umum admin on 08 Mar 2010 08:08 pm
Suatu Pagi di Sebuah Pasar
Suka sama ajaran ustad Yusuf Mansyur?
Tapi masih sebatas suka.
Suka pada keberhasilan sang Ustad saat menjalani titik balik kehidupan beragamanya.
Suka membaca kisah kisahnya saat menemukan berbagai keajaiban dalam bersedekah.
Suka saat dalam proses bersedekah itu ternyata menghasilkan return yang berlipat lipat.
Suka buku bukunya, suka Wisata Rohani nya.
Pernah ada yang bertanya pada beliau, apakah kita bersalah, mengharapkan return atau imbal balik dari Allah atas apa yg telah kita sedekahkan?
Karena merunut pada ajaran sang Ustad, “bersedekahkah kamu, maka Allah akan menggantinya minimal 10 kali lipat, bahkan 700 kali lipat”, membuat kita, manusia, berkalkulasi cepat saat akan bersedekah, berharap diganti Allah sebesar yang dijanjikan.
Dan sang Ustad pun menjawab, bahwa andai seorang manusia berjanji sesuatu,
pasti Ia akan berusaha menepati janjinya.
Apalagi Allah, SWT.
Yang Maha Pemenuh Janji.
Jangan ragu sedikitpun, dan Allah tidak akan ingkar dari janjinya.
Intinya, jangan takut menjadi dosa, apabila kita berharap balasan Allah atas sedekah yang kita lakukan, sepanjang sedekah itu berniat untuk dan hanya kepada Allah, SWT.
Bukan bermaksud menggurui atau sok religius kali ini.
Tapi dalam kehidupan seorang emak-emak yang kegiatan kesehariannya tidak bussiness oriented, aku mengalami ajaibnya efek bersedekah secara langsung.
Adalah lazim bagiku untuk menyambangi pasar seminggu sekali di hari Minggu, dan menyetok bahan makanan seperlunya, pun pada Minggu ini.
Di los penjual buah, saat khusyuk (halaahhh) menawar alpokat yang menghijau indah, seorang anak kumal dan berwajah sendu mengulurkan tangannya, meminta belas kasihan. Umumnya, ibu2 (apalagi yang sedang menawar barang supaya mendapat harga serendah rendahnyaaaa) akan merasa kesal dan jengah dengan gangguan seperti itu.
Boro boro memberi receh pada si anak, biasanya pengemis tersebut diberi lambaian tangan tanda mengusir, disertai omelan yang isinya kira kira “huh, dasar males aja tuh anak, badan sehat, malah minta minta. Mbok ya kerja, hari gini cari duit susah!”
Namun kali itu kuhentikan sejenak proses tawar menawar alpokat, merogoh dompet untuk mengeluarkan selembar uang 2000 perak dan mengulurkannya ke anak kumal itu.
Si anak sumringah, mengucap hamdalah dan terimakasih, lalu berlalu.
Akupun kembali asyik memasukkan buah ke dalam kantong, lalu minta ditimbang. Saat akan membayar jumlah belanjaan, ibu penjual pokat berujar bahwa aku boleh membayar belanjaanku separoh harga semestinya. Kaget, pasti.
Lalu saat kutanya maksud dari kemurahan hatinya, ibu penjual itu berujar malu malu,
“Saya senang lihat orang yang masih punya hati buat anak anak pengemis. Dan saya juga ingin mendapat pahala pagi ini, seperti ibu”.
Subhanallah..
Berlipat lipat rejekiku kali ini.
Let’s count.. Potongan harga pada belanjaan, doa dan senyum si pengemis, dan perpanjangan amal ke ibu penjual pokat, niat orang untuk beramal karena tergugah oleh tindakanku..
Bisakah dihitung balasan Allah kali ini?
