Sifat dan tingkah laku seorang anak adalah cermin dari keluarga tempat tinggalnya.

Tidak berlebihan ungkapan itu, karena, jika manis perangai seorang anak, dibelakangnya ada ibu atau ayah yang telah mendidiknya dengan manis.

Buruk tingkah seorang anak, cerminan pengajaran yang tidak baik dari orang tuanya.

Sungguh hal ini menggugah tanyaku hari ini, setelah mendengar dan menyaksikan polah seorang teman sekelas putriku.

Adalah Udin, sebut saja namanya demikian, seorang anak lugu dan cenderung tidak memiliki presenden negatif terhadap apa-apa yang terjadi pada dirinya dan lingkungannya.

Kemarin Udin sedang mengulang pelajaran PPKN di rumah bersama ibunya, untuk persiapan ulangan keesokan harinya. Si ibu harus menjelaskan pengertian ‘Harga Diri’ kepada Udin, karena itulah bahan ulangan kali ini.

Harga diri adalah kehormatan dan kesadaran akan pentingnya kehormatan diri, agar tidak timbul kesedihan, ejekan atau hinaan pada diri kita, demikian rinci si ibu. Dan kemudian Udin akan kembali bertanya polos tentang arti “mengejek” kepada ibunya. Maka ibunya memberikan contoh, andai ada yang ‘berkata jahat’ seperti “Udin bodoh” atau sejenisnya, maka akan muncul rasa sedih dan terluka pada diri, yang dinamakan ketersinggungan, merasa diejek, menyentuh harga diri.

Mata Udin berpendar, mengingat satu momen dala kesehariannya di sekolah. Beberapa hari yang lalu, salah satu teman telah “mengejek” dan “menyinggung harga dirinya” tanpa ia tahu. Adalah Via, teman sekelas Udin yang meneriakkan kata kasar “Anjing kamu..!” saat tanpa sengaja Udin menjatuhkan penggaris Via. :-?

Si Ibu hampir pingsan demi mendengar cerita Udin, dari sedih bercampur marah, si ibu mengorek cerita dari Udin agar kelak bisa diselesaikan di sekolah dengan bantuan guru kelasnya.

Terlepas dari permasalahan Udin dan Via, ucapan mengerikan tersebut tidaklah pantas dicontohkan pada anak-anak. Ya, dicontohkan.

Karena anak-anak yang masih polos, tidak mungkin pandai dan terlatih menggunakan bahasa mengerikan seperti itu jikalau tidak dicontohkan oleh orang lain, yang dekat dengannya.

Dalam sehari, setidaknya 16 jam anak-anak berada di lingkungan rumah, dan paling tidak 3 jam anak akan berinteraksi dengan orangtuanya.

Maka apabila seorang bapak pernah terlihat memukul istrinya di depan anak, tidak mustahil anak akan memukul teman atau orang lain walau karena kekesalan kecil. Jika sempat terekam dalam otak si anak kala ibu melontarkan sumpah serapah kepada tetangganya, maka besar kemungkinan si anak akan memaki temannya dengan kata-kata kotor, Cuma karena sang teman merebut tempat duduknya.

So, remember this, parents (and parents wanna be) :

Dari Lingkungan Hidupnya Anak-anak Belajar…

(Dorothy Law Nolte)

.

Jika anak dibesarkan dengan celaan

Ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan

Ia belajar menentang

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan

Ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi

Ia belajar jadi penyabar

Jika anak dibesarkan dengan dorongan

Ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian

Ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan

Ia akan terbiasa berpendirian

Love You, Kids.. ;-)