Suka sama ajaran ustad Yusuf Mansyur?

Aku suka.

Tapi masih sebatas suka.

Suka pada keberhasilan sang Ustad saat menjalani titik balik kehidupan beragamanya.

Suka membaca kisah kisahnya saat menemukan berbagai keajaiban dalam bersedekah.

Suka saat dalam proses bersedekah itu ternyata menghasilkan return yang berlipat lipat.

Suka buku bukunya, suka Wisata Rohani nya.

Pernah ada yang bertanya pada beliau, apakah kita bersalah, mengharapkan return atau imbal balik dari Allah atas apa yg telah kita sedekahkan?

Karena merunut pada ajaran sang Ustad, “bersedekahkah kamu, maka Allah akan menggantinya minimal 10 kali lipat, bahkan 700 kali lipat”, membuat kita, manusia, berkalkulasi cepat saat akan bersedekah, berharap diganti Allah sebesar yang dijanjikan.

Dan sang Ustad pun menjawab, bahwa andai seorang manusia berjanji sesuatu,

pasti Ia akan berusaha menepati janjinya.

Apalagi Allah, SWT.

Yang Maha Pemenuh Janji.

Jangan ragu sedikitpun, dan Allah tidak akan ingkar dari janjinya.

Intinya, jangan takut menjadi dosa, apabila kita berharap balasan Allah atas sedekah yang kita lakukan, sepanjang sedekah itu berniat untuk dan hanya kepada Allah, SWT.

Bukan bermaksud menggurui atau sok religius kali ini.

Tapi dalam kehidupan seorang emak-emak yang kegiatan kesehariannya tidak bussiness oriented, aku mengalami ajaibnya efek bersedekah secara langsung.

Adalah lazim bagiku untuk menyambangi pasar seminggu sekali di hari Minggu, dan menyetok bahan makanan seperlunya, pun pada Minggu ini.

Di los penjual buah, saat khusyuk (halaahhh) menawar alpokat yang menghijau indah, seorang anak kumal dan berwajah sendu mengulurkan tangannya, meminta belas kasihan. Umumnya, ibu2 (apalagi yang sedang menawar barang supaya mendapat harga serendah rendahnyaaaa) akan merasa kesal dan jengah dengan gangguan seperti itu.

Boro boro memberi receh pada si anak, biasanya pengemis tersebut diberi lambaian tangan tanda mengusir, disertai omelan yang isinya kira kira “huh, dasar males aja tuh anak, badan sehat, malah minta minta. Mbok ya kerja, hari gini cari duit susah!”

Namun kali  itu kuhentikan sejenak proses tawar menawar alpokat, merogoh dompet untuk mengeluarkan selembar uang 2000 perak dan mengulurkannya ke anak kumal itu.

Si anak sumringah, mengucap hamdalah dan terimakasih, lalu berlalu.

Akupun kembali asyik memasukkan buah ke dalam kantong, lalu minta ditimbang. Saat akan membayar jumlah belanjaan, ibu penjual pokat berujar bahwa aku boleh membayar belanjaanku separoh harga semestinya. Kaget, pasti.

Lalu saat kutanya maksud dari kemurahan hatinya, ibu penjual itu berujar malu malu,

“Saya senang lihat orang yang masih punya hati buat anak anak pengemis. Dan saya juga ingin mendapat pahala pagi ini, seperti ibu”.

Subhanallah..

Berlipat lipat rejekiku kali ini.

Let’s count.. Potongan harga pada belanjaan, doa dan senyum si pengemis, dan perpanjangan amal ke ibu penjual pokat, niat orang untuk beramal karena tergugah oleh tindakanku..

Bisakah dihitung balasan Allah kali ini?



Judul di atas adalah merupakan judul buku karya Dr. Khalid Abu Syadi, yang aku dapatkan dari acara Kopdar Wong Kito – Tuker Buku, Februari lalu.

Buku yang memotivasi ini didapat dari Mbak Suzan (dimana buku ‘titipan’ku ke acara itu juga nyampenya ke Mbak Suzan, kind of fate? Heheheh)

Untuk mengupas atau mereview buku ini, rasanya harus disalin semua isi dari dalam bukunya, karena setiap lembarnya mengandung banyak sekali petuah dan kata kata bijak untuk pedoman kita.

 

So, di sini aku hanya akan mengutip beberapa quote yang sangat berkesan..

*Doa adalah merupakan jawaban yang dipanjatkan, dan pasti akan diiringi oleh cobaan yang menguji. Jika bersabar, maka kemenangan kan datang.

 

** Kukatakan pada hati, apa yang membuat rasa cemas dan takut,

Hilang dariku kesabaran, kelebihan dan ketabahan,

Langit mengajak hati agar berjalan sesuai takdir,

Jangan berpaling dari langit ketika datang kepadamu perintah mengatasi kerusakan,

Liputi aku, biar aku berada di dalam dekapan kasih sayang Allah,

Karena Dialah sebaik-baiknya penolong & pelindung

 

*** Jangan banyak menangisi reruntuhan yang berserakan,

Ketahuilah, dosa adalah batu yang menghalangi jalan menuju Allah,

Segera bangkit lalu kumpulkan batu itu untuk dijadikan tangga

Menuju tempat yang penuh dengan kebahagiaan.

**Jangan sekalipun menoleh kegagalan masa lalu, sebab hal itu akan menghambat kesuksesan pada hari ini

 Alhamdulillah..

Adalah Olive teman kantorku yang semangat pesen cupcake kali ini, untuk dibagikan ke karibnya di hari ulang tahunnya.

Olive is a great woman (liv, not girl anymore, honey), yang punya banyak energi dan bersemangat dalam melakukan segala sesuatu. So, mungkin semangat inilah yang menular dan membuat aku say “YES” waktu diingatkan untuk membuatkan 26 cupcake pesanannya di H-1.. (uhuuuuyy)

Baking kue selepas Isya, dan mulai mengcover cupcake dengan fondat warna warni. Oya, Olive is wearing hijab, so ide kreasi kali ini adalah figurine hijab.

Setelah jam 23.30 WIB, badan mulai letih tapi cupcake ini baru kelar 10 biji :roll: Kuputuskan untuk istirahat dan berniat meneruskan subuh hari nanti..

Tapi ternyata si ide malah datang ditengah mimpi :-D

Jam 2, jam 3, kebangun dengan beberapa ide untuk menghias sang cupcake..

Akhirnya jam 4.30 aku give up buat maksain tidur !

Daaaannn, inilah hasilnya….

Sepadan dengan antusiasme Olive dalam menerima cupcake ultahnya..

Makasihhh Oliveeeee !!!!


Sifat dan tingkah laku seorang anak adalah cermin dari keluarga tempat tinggalnya.

Tidak berlebihan ungkapan itu, karena, jika manis perangai seorang anak, dibelakangnya ada ibu atau ayah yang telah mendidiknya dengan manis.

Buruk tingkah seorang anak, cerminan pengajaran yang tidak baik dari orang tuanya.

Sungguh hal ini menggugah tanyaku hari ini, setelah mendengar dan menyaksikan polah seorang teman sekelas putriku.

Adalah Udin, sebut saja namanya demikian, seorang anak lugu dan cenderung tidak memiliki presenden negatif terhadap apa-apa yang terjadi pada dirinya dan lingkungannya.

Kemarin Udin sedang mengulang pelajaran PPKN di rumah bersama ibunya, untuk persiapan ulangan keesokan harinya. Si ibu harus menjelaskan pengertian ‘Harga Diri’ kepada Udin, karena itulah bahan ulangan kali ini.

Harga diri adalah kehormatan dan kesadaran akan pentingnya kehormatan diri, agar tidak timbul kesedihan, ejekan atau hinaan pada diri kita, demikian rinci si ibu. Dan kemudian Udin akan kembali bertanya polos tentang arti “mengejek” kepada ibunya. Maka ibunya memberikan contoh, andai ada yang ‘berkata jahat’ seperti “Udin bodoh” atau sejenisnya, maka akan muncul rasa sedih dan terluka pada diri, yang dinamakan ketersinggungan, merasa diejek, menyentuh harga diri.

Mata Udin berpendar, mengingat satu momen dala kesehariannya di sekolah. Beberapa hari yang lalu, salah satu teman telah “mengejek” dan “menyinggung harga dirinya” tanpa ia tahu. Adalah Via, teman sekelas Udin yang meneriakkan kata kasar “Anjing kamu..!” saat tanpa sengaja Udin menjatuhkan penggaris Via. :-?

Si Ibu hampir pingsan demi mendengar cerita Udin, dari sedih bercampur marah, si ibu mengorek cerita dari Udin agar kelak bisa diselesaikan di sekolah dengan bantuan guru kelasnya.

Terlepas dari permasalahan Udin dan Via, ucapan mengerikan tersebut tidaklah pantas dicontohkan pada anak-anak. Ya, dicontohkan.

Karena anak-anak yang masih polos, tidak mungkin pandai dan terlatih menggunakan bahasa mengerikan seperti itu jikalau tidak dicontohkan oleh orang lain, yang dekat dengannya.

Dalam sehari, setidaknya 16 jam anak-anak berada di lingkungan rumah, dan paling tidak 3 jam anak akan berinteraksi dengan orangtuanya.

Maka apabila seorang bapak pernah terlihat memukul istrinya di depan anak, tidak mustahil anak akan memukul teman atau orang lain walau karena kekesalan kecil. Jika sempat terekam dalam otak si anak kala ibu melontarkan sumpah serapah kepada tetangganya, maka besar kemungkinan si anak akan memaki temannya dengan kata-kata kotor, Cuma karena sang teman merebut tempat duduknya.

So, remember this, parents (and parents wanna be) :

Dari Lingkungan Hidupnya Anak-anak Belajar…

(Dorothy Law Nolte)

.

Jika anak dibesarkan dengan celaan

Ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan

Ia belajar menentang

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan

Ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi

Ia belajar jadi penyabar

Jika anak dibesarkan dengan dorongan

Ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian

Ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan

Ia akan terbiasa berpendirian

Love You, Kids.. ;-)

Hurrayyy… :-D

Akhirnya ada kesempatan untuk coba bikin fondant decorate buat ultah Jasmine..

Adek Jasmine (yg postur tubuhnya gak sesuai dipanggil adek oleh Fa) ultah hari ini, dan sang bunda memesan cupcakes pluuuussss mendekor cake ultahnya. Jadilah ini kesempatan pertamaku untuk bereksperimen dengan fondant with b’day cake.

Setelah digilas rapi, ternyata meletakkan fondant di atas cake butuh keahlian khusus ya :lol:

Dua kali mencoba, akhirnya setelah dicoba ‘gaya’ menempelkan fondant ke gilingannya, then diletakkan ke atas kue, holaaaa !! berhasil !!

Not bad, walo belum secantik yg diharapkan :)

Then diteruskan dengan cupcakes ber-edible powerpuff girl (kesukaan Jasmine) dan princess offcourse, here they are

Sempet insiden juga waktu membawa kue ke sekolah Jasmine, karena mobilnya berguncang *halaaahhhhh* so butter creamnya pada nempel2 di plastik mika. Tapi gak pa pa, everything was under control..

Jasmine dan kue nya

Para kue ditata di meja khusus yg diorder Papa Fa.. *thanks Pa..*

Dan selusin cupcakes pesanan Mamanya Rafif, buat ulangtahun Kakeknya Rafif *spesial order, gak mau pake fondant, gigi kakek gak kuat, hahahaha*

Keiii, Thanks for Jasmine, Thanks for Mama Rafif… :-D

Komunitas Blogger WongKito

FireStats
  • Pages displayed : 5880
  • Unique visitors : 3418
  • Pages displayed in last 24 hours : 13
  • Unique visitors in last 24 hours : 11